Friday, December 7, 2012

Peace and Forgiving

Today, I spent the night with my youth dearest friends. We ate dinner together while watching a movie about Nelson Mandela called Invictus. The film is very simple, tells how a Nelson Mandela who had just risen to president of South Africa who should meet and interact with people who once hated, even throw him  to prison. I'm very intrigued with the desire and ability to forgive and make peace between the two camps that exist in Southern Africa.

Then I'll just think about my own country, Indonesia, which is so rich with race, ethnicity, religion and language. Our country is multiculturalism that stood on the motto Bhinnekha Tunggal Ika, but it seems many people have forgotten this motto. Even though they may know the meaning of this motto, but they chose not to do so because of a grudge and bitter history with those who are not "fellow". This was a bitter fact, when it is beautiful to live in the midst of Indonesia as a country which have so many diversity, but this beauty is even seen as a knife for a lot of people who do not understand where the beauty is. This is what often triggers feud, even triggering endless revenge but continue to be brought to death.

But everyone want PEACE!! Who the hell in this world doesn't want to live in peace? Then why they keep on arguing each other or even finding other's mistakes just for take another revenge? It's not make sense, doesn't it? But here's the truth among us as Indonesian, as we never ever forget the past which fetter us, even if we know that pluralism which we have is our uniqueness, but still we fight for ourselves. We still fight for our race, our religion, our ethnics. Where is the spirit which brought us to this freedom?

We can start it from ourselves.

No, We SHOULD start it from ourselves!!

Where to start? Of course from forgiving each other. It's really hard to forgive other, especially when they had a big mistake upon us, but we can try it. And not only forgiving they who have that mistakes, but also forgive they who you think are wrong, even they truly wrong or not. Try to accept people as they are, not as we want. Think that they are different not because they are wrong, but because their uniqueness which can't replaced with anything in this world. Try to make the history as our spirit to move on, and as a valuable lessons which can make us better.

I hope this country will be firmly united, sooner or later.

Wednesday, December 5, 2012

And Still....

Siapa yang tidak tahu lagu ini?

Jingle bells, jingle bells, jingle all the way
Oh, what fun it is to ride in a one horse open sleigh

Atau lagu yang ini?

I'm dreaming of a white Christmas
Just like the one I used to know
When the tree tops glisten and children listen
To hear sleigh bells in the snow

Atau mungkin yang ini?

It came upon the midnight clear
When glorious song of old
From angels bending near the earth
To touch their harp of gold

Bagaimana dengan yang ini?

O little town of Bethlehem
How still we see thee lie?
Above thy deep and dreamless sleep
The silent stars go by

Manakah yang lebih familiar? Manakah yang lebih sering kita dengar? Manakah yang lebih sering diputar di pusat perbelanjaan atau mal? Manakah yang lebih sering kita senandungkan di bulan Desember ini?

Sepertinya lagu pertama dan kedua lebih familiar, entah karna lebih riang, atau karena kata-katanya lebih mudah diterima dibandingkan lagu ketiga dan keempat yang nampaknya begitu abstrak dengan adanya malaikat dan bintang berjalan. Tanpa sadar juga kita lebih senang menyanyikan lagu dengan jenis yang serupa dengan lagu pertama dan kedua, dibandingkan dengan lagu jenis ketiga dan keempat.

Apakah ini berarti kita sudah kehilangan makna Natal yang sebenarnya? 

Dulu sewaktu pelajaran ekonomi tentang perhitungan penduduk, saya belajar dan saya mengetahui bahwa natal itu adalah kelahiran. Dan sesuai namanya, hari Natal adalah hari kelahiran. Kelahiran siapa? Tentunya kelahiran Yesus yang konon katanya lahir di kandang domba, di dalam palungan yang adalah tempat makan hewan.

Lalu memangnya Dia lahir terus setiap tahun? Kenapa harus dirayakan terus menerus padahal orangnya pun bahkan tidak pernah muncul di media massa?

Well.. Sejujurnya Yesus sendiri adalah tokoh terkemuka yg sering muncul di media massa, yaitu Bible, yang adalah buku tebal yang dijual bebas di toko-toko buku di sekitar anda. Dan masalah kelahiranNya, memang Dia tidak lahir setiap tahun.

Jadi apa yang sebenarnya kita rayakan sih?

Tentunya bukan kelahiran bayinya yang kita rayakan. Toh nantinya kita juga tidak menerima bingkisan man yue atau undangan besuk kelahiran. Yang penting itu bukan si bayi, tapi makna kelahirannya. Yang penting itu bukan kapan Dia lahirnya, tapi kenapa Dia harus lahir. Dan tentunya karena Dia tidak lahir terus setiap tahun, kita juga harus sadar bahwa yang kita rayakan bukanlah kelahiran jasmaninya, tapi kelahirannya dalam hati kita.

Then it means, Christmas must become a time when you completely remember about His love to you.

Saya bukan orang yang fanatik dengan kekristenan. Saya juga belum menjadi seorang Kristen yang baik dan taat. Bahkan seringkali saya membenarkan diri saya di atas dosa dan kesalahan yang saya buat, semata-mata hanya untuk kepentingan saya sendiri. Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa manusia itu tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya Tuhan.

Jadi sudahkah kita menjadi palungan bagi Dia?

Ah.. Religius sekali postingan ini...

Monday, December 3, 2012

Welcoming December

It's already December 3rd!! Ga kerasa banget uda mau Natalan lagi, uda mau ganti tahun lagi.. Seneng banget tentunya bisa menyambut Desember yang penuh keceriaan karna uda kangen banget ama liburan :P but somehow idk if i will have some holidays with my BF or not *sigh* 

Okay okay, back to the December topic..

Dimana-mana udah berasa banget suasana Natal, entah karena Natal emang datang lebih dulu ke mall dan tempat wisata, apa emang Natal di gereja yg telat ya? Hahaha.. Pohon Natal berwarna-warni dan ukuranya besar pasti ada di dalem mal, minimal 1 buah pohon deh. Lagu-lagu Natal uda mulai diputer dimana-mana dan tiba2 lebih ngehits daripada lagu Separuh Aku nya Noah. Buat department store, Natal adalah waktu yang tepat buat ngabisin stok baju-baju lama yang tiba-tiba didiskon habis-habisan sampai menarik orang buat datang dan bahkan beli. Supermarket kecil dan besar juga sama aja, buat mereka ini waktunya ngabisin stok biskuit-biskuit dan sirup yang uda lama dan dibungkus dalam bentuk parcel yang tentunya harganya bisa jadi lebih mahal.

Well.. Kalo dipikir-pikir, Christmas is all about money ya..

Dulu tiap Christmas, gw pengen banget punya baju baru, dan pengennya itu lebih pengen dibanding punya baju baru pas Chinese New Year. Alhasil, dulu tiap Natal gw dapet baju baru, yang bahkan cuma gw pake pas hari Natal doang dan abis itu entah gw lempar kemana. Dulu tiap Natal rumah gw selalu kebanjiran parcel dari kolega bokap, yang juga ujung2nya ga dimakan dan digeletakin gitu aja sampe entah kapan, dan baru inget biasanya pas tanggal kadaluarsanya udah lewat. Dulu hampir tiap Natal ada sumbangan baju bekas, dimana gw beserta keluarga ngumpulin baju-baju bekas yang bener-bener bekas dan uda males dipake lagi buat disumbangin. Dulu tiap Natal, gw selalu nyimpen rumput dalem sepatu yg akan gw taro di bawah ranjang biar nanti kalo ada sinterklas lewat dia mampir dulu buat ngasi rusanya makan. Dulu gw lebih berharap akan kedatangan santa yang bawa hadiah sampe gw pun kadang bikin daftar kebaikan selama setahun. Selain itu gw juga berusaha jadi anak baik biar ga dikarungin sama pit hitam yang konon katanya datengnya sama sinterklas.

Ah.. Dipikir-pikir dulu hidup gw sesat juga ya x_x

Dan kalo diinget-inget, Natal itu mulai berarti buat gw sejak gw masuk SMP, dimana udah ga dapet lagi hadiah dari santa yang katanya super baik itu. Hal itu dibarengi dengan terkuaknya misteri bahwa santa sebenernya adalah orang tua kita, terus kecewa karna santa sebenernya ga ada, terus sedih karna ga dapet hadiah dari santa lagi padahal tetep dapet hadiah dari ortu juga. Terus kembali berpikir tentang betapa sia-sianya gw tiap malem Natal nyabutin rumput bahkan sampe milih rumput yang bagus hanya demi untuk makanan si rusa padahal rusa itu ga pernah sekalipun datang.

Ini sebenernya yang salah adalah dongeng sinterklas, atau makna Natal itu emang ga pernah disampaikan sama ortu ya? Atau mungkin udah disampaikan tapi bahkan gw yang pura-pura ga denger apa-apa dan ujung-ujungnya lupa?

Lalu masihkah anak-anak sekarang mengharapkan hal yang sama seperti gw?

Masihkan mereka takut sama pit hitam yang katanya bakal ngarungin anak-anak nakal?

Masihkah Natal itu hanya sebagai ajang bersenang-senang, pesta, dan dapet hadiah?

Masihkah Natal jadi sarana kebohongan ortu menyampaikan hadiah yang katanya dari sinterklas?

Well.. Gw mungkin ga bisa menjawabnya karena gw belum punya anak, dan juga anak-anak les gw cuma sedikit yang beragama Kristen. Tapi kok kayaknya Christmas betul-betul dirayakan seluruh penduduk dunia, baik yg Kristen maupun enggak. Apakah segitu meriahnya? Segitu spektakulernya?

Jadi yang menarik mereka itu apa? Hura-huranya? Pestanya? Pohon Natal dan hiasannya? Atau Yesusnya yang lahir di hari Natal itu?

Friday, November 30, 2012

Professionality?

What are the criteria of a good teacher?
Why would a teacher loved and respected by her/his student?

Incidentally this day, me and my friends got an unpleasant experience as a lecturer can't uphold the professionalism and prestige value, instead it dropped in front of students. First, because she was late to teach, then she was also arbitrarily change the agreement that was made​​, and her decision is subjective and doesn't think from students' perspective. Is this really how should be the teaching done?

I'm also a teacher, and I know that this is wrong. So why did she doing such a thing like this?

Teaching is fun and exciting for me, thus they might enrich you more and more aside from what you've learned at school or university. And in my perspective, a teacher is someone whom you can ask and depend for, while she/he can also be your friend. Then teaching is not only about the knowledge, it's not only about the exam and marks, but it's also about trust between student and teacher.

I'm not saying that I'm good enough, but I'll always try to be a better teacher day by day. It's not easy, I know, but being trusted by my students is much more valuable. Became a respected teacher  is much more difficult than the dreaded teacher, and that's much more valuable. Therefore, I'm trying my best to build a good relationship with my students by building bridges of trust as solid as possible, so that no one can break it.

Somehow I wish all of the teacher could make it too, but neither I know what's on their mind about teaching.

Long life dear good teacher and lecturer all around the world =)

Thursday, November 29, 2012

BLACKBERRY? They should change the name to BLACKHOLE

Lama banget ya ga blogging.. rasanya kangen juga hahaha :p

Kemarin kembali gw merasa kesal dengan keberadaan gw.. entah gw yang salah, apa mereka..

Gw sering banget denger ungkapan, "Blackberry itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat". Buat gw ini bener banget, dan mungkin ini salah satu hal kenapa gw ga pake BB, dan ga minat juga beli BB. Banyak gw denger kalo memang begitulah dampak pemakaian BB di era globalisasi ini, apalagi di Indonesia, yang mayoritas pengguna BB. Ga tau ya kenapa BB begitu booming di Indo ini, sampe gw pernah liat ada sopir angkot yg pake BB *WTF*.


So, here's the story...

Kemarin adalah hari Rabu, yang mana adalah jadwal latian paduan suara Nafiri di gereja gw. Dan karna udah mendekati natal, jadinya latian vocal group Praise yang mana dijadwalin Jumat malem, jadilah berpindah ke Rabu juga, karena khusus malam natal tahun ini kita akan bikin mini kantata dengan jumlah orang yang banyak. Ya pokoknya intinya, latian digabung ke hari Rabu, karena pianisnya dari Nafiri. Lalu karna latiannya digabung, jadilah cowo gw, sebut aja Yan, yang juga ikut VG, datang buat latian di hari Rabu malem ini.

Seperti biasa, sebelum latian kita pasti pergi makan dulu, karna kalau makannya abis latian udah kemaleman, dan lagi besoknya dia kerja. Pas lagi makan, sampailah whatsapp dari temen gw di Komisi Pemuda (disingkat KP), dengan inisial HP. Dia ngajakin gw buat melayat ke rumah duka abis Nafiri, karna dia juga ikut latian Nafiri. Karna gw berpikir bahwa latian aja pulangnya malem, jam 10 malem minimal sampe rumah, belom lagi mau pergi melayat, dan gw sendiri udah ngantuk dan cape abis ngajar anak-anak, jadinya gw tolak dengan alesan malem banget.

Oke ceritanya makan malem selesai dan gw beserta Yan pergi ke gereja buat latian. Begitu gw sampe di gereja, baru sedikit orang yang dateng. Entah tradisi ato emang pada males dateng pagi2, tapi emang latian kita yang harusnya jam 20.00 ga pernah mulai tepat waktu. Bahkan tadi pelatih pengganti (karna pelatih asli lagi ke luar negri menantikan kelahiran cucu) baru dateng jam 20.06 -___-

Ga lama setelah sang pelatih pengganti sampai, anaknya yang berinisial TF, yang adalah anggota padus Nafiri dan juga anggota Praise, nyamperin gw dan bilang, "Ci San-san (pelatih VG yang skrg lagi melatih Nafiri buat kantata) gila ya? Masa katanya kita nanti disuru nyanyi juga di rumah duka?!". Dan gw yang ga tau apa-apa cuma bisa ber-HAH ria sambil mikir ini ada apa sebenernya. Terus dia bilang lagi, "Eh, lu tau ga sih?". Dan gw cuma bisa jawab, "Soal apa nih?". Lalu katanya lagi, "Opanya Dave meninggal". Dan gw jawab, "Kalo itu gw tau". Lalu dia nerusin, "Dan malem ini abis latian, Praise mau ke rumah duka bareng-bareng". Rasanya JLEBB banget waktu dia ngomong begitu, dan gw cuma bisa bilang, "Oh, yang itu gw ga tau," terus merasa sebel lagi sama temen2 Praise. Yaa.. Meskipun akhirnya gw diajak juga buat ngelayat ke rumah duka, tapi rasanya males aja, dan sebel tentunya, karna gw selalu jadi orang yang ga tau apa-apa. And again, karna mereka pake BB, dan gw enggak.


Entah emang cuma gw doang yang merasa, apakah semua orang di Indo ini yang ga pake BB juga merasakan hal yang sama. Tapi tetep, menurut gw yang salah bukan BBnya, tapi pemakainya. Buktinya temen gw, HP, bisa nanyain dan terus keep contact dengan gw walaupun dia pengguna BB. Dan bukan cuma dia, tapi hampir semua temen2 di KP pun begitu, dan gw hampir tidak pernah sekalipun ketinggalan berita dari mereka. Lain halnya dengan anggota Praise, yang kalo kata Yan yang sama-sama ga pake BB, kebanyakan masih bocah, karena emang berisi anggota mulai dari umur 12 tahun sampai 26 tahun, dan kebanyakan 22 ke bawah.

Terlepas dari bocah enggaknya, gw sendiri pun pernah memakai BB sekitar umur 21an. Dan kalau boleh sombong, dan entah ini bisa dibilang sombong atau engga, gw juga ga addicted sama BB. Karna menurut gw BB itu cuma menang BBM dan ga ada yang lebih spesial daripada BBM, dan kalau suatu hari nanti gw dituntut harus membeli BB karna alasan kerjaan, yg gw cari adalah BB termurah karena itung-itung gw cuma beli BBMnya. Buat gw, BB itu fiturnya kurang memadai dan kurang lengkap buat dunia gw, dan karena gw gamers jadi merasa BB itu cuma batangan penyampai pesan *LOL*

Hampir semua orang yang "berduit" di Indonesia, khususnya di Jakarta, pasti punya BB. Mulai dari anak-anak sampai kakek nenek. FYI, murid gw yang umur 5 tahun udah dipegangin BB sama ortunya, padahal dia nulis aja belom lancar, tapi bisa lancar BBMan sama ortunya -_-  Bener-bener dunia ini udah ga beres, atau lebih tepatnya, manusia ga bisa memanfaatkan teknologi dengan baik dan benar, sampai aktifitas di dunia terlihat jadi ga seperti semestinya. Teknologi yang dimaksudkan untuk mempermudah, malah jadi sarana chatting dan kadang juga berbagi sesuatu yang ga penting. Buat gw, mempermudah itu baik, tapi segala sesuatu yang mudah itu ga lepas dari segala sesuatu yang sulit. Kenapa kita bisa bilang mudah? Karena kita udah pernah merasakan sulit, dan kita ga boleh melupakannya. Termasuk tidak boleh melupakan orang-orang lain yang berada di "luar" lingkaran BB yang tetep pengen keep in touch sama kita.

Ga usah ngomongin BB doang deh, gadget sekarang juga udah menjamur dimana-mana. Murid gw yang masih umur 3 taun aja "dibekelin" ipod touch paling baru sama mamanya. Belom lagi gw sering liat anak SD jalan-jalan di mal sambil pegang tab. Dunia macam apa ini X_X  Gadget sekarang jadi bintang utama dalam interaksi kita sehari-hari, bahkan saat kita bersosialisasi dengan teman atau ortu pun kita selalu melibatkan gadget. Gw sering ngomelin Yan di meja makan, karna dia selalu bawa-bawa iphonenya dan maen waktu makan bareng keluarga. Orang mulai ga menghargai waktu yang berkualitas. Orang mulai meninggalkan kebiasaan mangan ora mangan yang penting ngumpul. Oh, mungkin slogannya uda ganti jadi mangan ora mangan yang penting megang gadget. Sepertinya seminar-seminar tentang ini akan membantu orang kembali ke masa lampau, saat pertemuan dengan sesamanya jadi lebih berarti dibandingkan gadget. Namun sayangnya manusia zaman sekarang bahkan udah ga tertarik lagi sama yang namanya seminar. Bahkan mungkin seminar dikira sejenis nama parfum kali. Kadang kasihan sama mereka yang mengadakan seminar, tapi yang datang hanya sedikit karena merasa semua bisa dicari di internet, dan GOOGLE itu adalah dewa maha tahu yang bisa menjawab apapun.

Jadi terus-terusan bertanya, kapan manusia bisa menghargai sesamanya seperti menghargai dirinya sendiri?

Atau bahkan manusia sekarang sudah tidak bisa menghargai dirinya sendiri?